Selasa, 18 Maret 2014

Aku, Kau dan Dia




Aku dan sahabatku berencana menghabiskan liburan di villa nenekku, aku emang udah lumayan lama gak ketemu dia , oh iya aku Salsa sahabatku namanya Tasya ( ica ) dia sahabat kecilku dari TK pas masuk SMP aku harus pisah karena ikut dengan keluarga dan Mugie sahabat sejak aku masuk SMA
_
Perjalanan yang cukup jauh dan mecet bikin kami pengen istirahat , 1 hari istirahat di villa cukuplah yah,  udara dingin disini membuat kami tidur nyenyak apalagi ditambah selimut hangat dan boneka lovely dogieku , suara pemanas menggetarkan telingaku suasana masih sepi semuanya masih terlelap , begitu pun dengan lampu yang menggantung itu. Cahaya mulai menyeruak dari ujung langit itu menyentuh kaca perlahan yang terpampang di hadapanku ,membuat remang –remang pada objek yang kulihat , langit mulai cerah meski garis- garis halus berwarna kelabu itu masih menghiasi langit.
Cahaya itu belum sempurna menyabar. Begitupun dengan mataku belum sepenuhnya terbuka masih terhanyut oleh fantastinya malam, sepertinya aku yang pertama bangun. Aku duduk terdiam di atas ranjang melihat lurus jam yang terpampang di dinding  ternyata, pukul 06.49. membuka pintu tanpa suara berjalan perlahan melihat dinding yang dihias lukisan-lukisan naturalis, mencoba mempercepat langkah dan berhenti di sebuah kaca besar , sesaat ku memandangi pohon hijau yang tersusun rapi , udara dingin tiba-tiba datang menghampiriku ,angin itu menghempas wajahku perlahan membuatku mengosokan kedua tangan .
“Hey, lari pagi yuk” sapa mugie sambil menepuk pundakku
“hah? Ayoo...” jawabku
Saat kami keluar rumah ica bertiak dari kaca kamar “kalian mau kemana, aku ikut....” sambil tergesa-gesa
“ayoo, ditunggu di taman cepet yah..” jawabku
Sambil menunggu Ica, aku dan Mugie berlari-lari kecil sambil ngobrol , berhenti di setiap warung untuk membeli camilan, Ica  menghampri orang di dekat pohon cemara itu sambil ber teriak  “ salsaaa , mugiie tunggu”
Aku dan mugie bertatap muka dan mengernyitkan alis dan kembali tercenung , aku dan mugie mencoba memperhatikan Ica dari jarak yang tidak terlalu jauh.
Ica menepuk pundak seseorang sambil ngos-ngosan dan berkata “ sialan, dari mana aja kalian?”
Seketika wajah Ica muram, orang itu berbalik badan dan berkata “ apa? Maksudnya ?”
Ica menjawab “ Upss, maaaf “ sambil berjalan menuju arah kami dengan wajah biru. Kami mencoba menahan tawa , ku memberi pesan lewat ponsel 
Folded Corner: Dari : salsa 
19.06.14/07:15
Masih mau lari2? Sampe kpn mau salah org lagi ?

Sender : 08xxxxx
 






                                                                                                                                
Dia berteriak menghampiri kami “ woaaaaaaaa, sialan rupanya ini skenario busuk kaliann” aku dan ugie hanya bisa tertawa ejek Ica.
Sluuurpp ...
Mugie menyeruput susu hangatnya
Aku dan Ica pun menyeruput susu hangat perlahan
Matahari menggantung rendah bulatan oranye itu telah memberikan senyumannya. Aku melihat –lihat rumah dan pepohonan di sekelilingku , Tasya dan Mugie tampak begitu dekat , mereka sangat asyik berbicara , seperti biasa Ica sangat menghanyati pembicaraannya dengan menggerak-gerakan tangannya dan Mugie hanya mengangguk-ngangguk dengan celotehan Ica yang cepat itu.
aku bosan merasa dicuekin , dan menggurutu pelan dalam hati “katanya mau libura tapi gue mlah dicuekin “ tak lama aku punya ide baguspun datang, aku menerobos diantara Tasya dan Mugie dan berkata “Hei, hei, hei lagi ngomongin apa? Asik nih ikutan doooong “ dengan nada cepat dah gerak riweuhku. 
Tasya sedikit tersentak dengan gerakanku, dan sedikit cemberut
 “don’t disturb me” ucapnya
lalu aku tertawa kecil dengan jawaban “whatever do you want”
sepertinya Tasya mulai geram tapi aku suka melihat Ica saat sebal. Bibir lucunya itu terus menggerutu , seperti orang gila kebingungan .. ahaha
udara dingin membekukan bibirnya hingga iya berhenti menggerutu, kamipun berjalan dengan penuh canda.
Cahaya yang bersemi oranye itu mulai redup , cahaya kekuningan itu seolah tersedot oleh cakrawala di ujung barat. Langit mulai gelap sepertinya mulai petang ,namun angin belum berhenti berhembus , aku mencoba mengencangkan syal coklatku.
_
Bintang telah memberikan kedipannya menandakan malam telah tiba , Aku ,ugi dan ica ditemani cahaya bulan yang begitu terang dan hangatnya api unggun .
Aku memasukan kedua tanganku kedalam saku , dan mengembuskan napas pedek dengan pejaman mata , menikmati dinginnya malam.